MANUSIA PERTAMA YANG MENGHUNI PLANET BUMI




Berawal dari kandungan surat Al Baqoroh ayat 29, yang intinya bahwa tercipta dan terutusnya Nabi Adam as. adalah sebagai Kholifah fi-Al Ardli. Artinya sebagai hamba yang diberi amanah oleh Allah swt. untuk menstabilkan dan melestarikan hukum-hukum Allah swt. dalam mengatur kehidupan yang ada di alam bumi. Baik yang berkaitan dengan sosial, budaya, norma-norma dan lain sebagainya.
Kesengajaan Allah swt. menciptakan Adam as. yang berstatus sebagai Kholifah fi-Al Ardli itu membuktikan bahwa Allah swt. paham betul tentang urusan-urusan mahklukNya dan juga membuktikan bahwa Allah swt. sangat cinta dan kasih terhadap semua makhlukNya. Adapun kemudian Allah swt. membenci terhadap salah satu makhlukNya, itu disebabkan oleh sikap makhluk itu sendiri. Yang tidak bisa memposisikan dirinya sebagai makhluk ciptaan Allah swt. Yang senantiasa harus patuh terhadap segala yang diperintahkan Allah swt. Dengan terutusnya Nabi Adam as. Ke bumi, bukan berarti Allah swt. butuh pada pertolongan Nabi Adam as. Karena Allah swt. adalah Dzat yang Maha Kuasa, Maha Bijaksana dan Maha Segalanya.


Hal yang demikian itu lebih dipengaruhi oleh kepribadian makhluk itu sendiri. Khususnya manusia yang dalam asli khilqohnya (asal kejadiannya), dalam keadaan lemah. Sehingga mereka sama sekali tidak akan mampu menerima khithobulloh (Firman Allah swt.) secara langsung, tanpa melalui wasithoh (perantara) dari makhluk yang sama dalam derajat mereka. Artinya sama-sama menjadi makhluk ciptaan Allah swt. Nabi saja yang notabenenya adalah manusia pilihan dan manusia yang sangat dicintai Allah swt. itu menerima khitobulloh lewat perantara Malaikat Jibril as. Khitobulloh adalah firman Allah swt. yang berkaitan dengan hukum-hukum Allah swt. yang dibebankan terhadap orang yang sudah mukallaf. Seseorang bisa dikatakan mukallaf apabila :
Laki-laki sudah mencapai umur 15 tahun. Sedangkan perempuan sudah mencapai 9 tahun.
Pernah mengeluarkan air sperma bagi laki-laki. Atau menstruasi bagi perempuan
Sudah menerima da’wah Islam.
Tentang kaitan terciptanya Nabi Adam as. Allah swt. berfirman dalam Surat Al Baqoroh ayat 29 yang berbunyi

واذقال ربك للملائكة اني جاعل في الارض خليفة قالوا اتجعل فيها من يفسد فيها ويسفك الدماء ونحن نسبح بحمدك ونقدس لك قال اني اعلم مالا تعلمون
Artinya “ Dan ketika Tuhanmu telah berfirman kepada Malaikat, sesungguhnya Aku (Allah swt.) adalah Dzat yang akan menciptakan Kholifah di bumi. Lalu Malaikat berkata apakah Engkau (Allah swt.) akan manciptakan makhluk yang akan merusak didalamnya (bumi) dan akan menumpahkan darah. Sementara kami (Malaikat) selalu mentasbihkan dengan memuja dan mensucikan Engkau. Allah swt. berfirman sesungguhnya Aku lebih mengerti apa yang tidak kalian mengerti ( QS. Al Baqoroh : 29 )
dari sifat Irodah Allah swt. yang secara teks ayat di atas menunjukkan bahwa Allah swt. sebelum menciptakan sesuatu dalam hal ini menciptakan Nabi Adam as. Allah swt. memberi kabar terhadap Malaikat. Kejadian yang seperti ini, tidak boleh diartikan bahwa Allah swt. butuh pada saran serta masukan dari para MalaiakatNya. Namun tindakan dan irodah Allah swt. yang seperti ini oleh Imam As Showi bisa ditarik dalam beberapa hikmah. Di antaranya :
Allah swt. sengaja untuk memperlihatkan bahwa Malaikat itu lemah dalam hal-hal ghaib.
Allah swt. sengaja memperlihatkan keunggulan dan keutamaan Nabi Adam as. kepada para Malaikat.
Adapun protes Malaikat pada Allah swt. tentang kepribadian makhluk yang akan diciptakan oleh Allah swt. yang hanya akan merusak tatanan bumi itu, karena para Malaikat hanya memandang sisi negatif dari diri makhluk (manusia) itu. Sehingga sisi positifnya tidak mereka perhitungkan.
Dalam diri manusia itu ada tiga faktor yang mempengaruhi terhadap kejiwaan dan kepribadian seseorang:
قوة شهوية: kekuatan atau dorongan untuk melakukan suatu tindakan yang bersifat memuaskan keinginan Nafsu
قوة غضبية: kekuatan untuk melakukan suatu tindakan yang bersifat memenuhi kepuasan Emosional
قوة عقلية: kekuatan untuk melakukan atau meninggalkan pada suatu tindakan yang didasari oleh akal sehat.
Rutinitas seperti makan, minum, berpakaian, menikah. Faktor yang mendasari itu semua adalah Quwwatun Syahwiyatun. Dan semua orang tidak akan bisa lepas dari perilaku seperti itu. Karena itu semua merupakan sifat yang menempel dan menjiwa pada diri seseorang. Untuk lebih mengarahkan kepada hal yang positif, maka Allah swt. membuat aturan-aturan tersendiri yang khusus untuk mengarahkan manusia, agar tidak terjerumus oleh Quwwatun Syahwiyatun itu. Seperti aturan–aturan dalam menikah yang meliputi syarat rukunnya, aturan-aturan tentang halal dan haramnya makanan maupun minuman, hukum-hukum yang mengatur tentang berpakaian dan lain sebagainya .
Adapun tindakan manusia yang mengarah pada kekerasan seperti membunuh, merampok dan mencuri itu lebih dipengaruhi oleh Quwwatun Ghodobiyyatun. Allah swt. dalam urusan yang bersifat Emosional ini memberlakukan aturan-aturan yang di mana dengan adanya aturan-aturan itu, diharapkan tindakan Emosional manusia bisa terkontrol dan bisa diarahkan kepada tindakan Emosional yang positif. Sehingga pengaruh-pengaruh yang dibawa amarah atau Emosional itu berubah pada tindakan yang bisa mengantarkan manusia pada kebaikan.
Baik Quwwatun Syahwiyatun maupun Quwatun Ghodhobiyatun itu, sasaran pastinya lebih kepada hal yang negatif. Di samping itu merupakan sifat manusia, juga ada kekuatan luar yang mempengaruhi dan mendorong pada dua kekuatan itu. Kekuatan luar itu adalah kekuatan Syaiton atau Iblis yang misi utamanya adalah menjerumuskan manusia ke jalan yang sesat.
Aturan-aturan Allah swt. yang untuk mengatasi masalah-masalah seperti itu, meliputi hukum jinayat, hukum qishos, hukum diyat dan lain sebagainya. Yang terakhir adalah Quwatun Aqliyatun. Yaitu sebuah dorongan atau motivator untuk melakukan suatu tindakan yang berdasar pada akal sehat. Sehingga tindakan yang dilakukan itu akan sama dengan aturan-aturan Allah swt. Dan hasil yang akan diperoleh adalah kemaslahatan. Baik bagi dirinya maupun pada ummat. Dorongan dari Quwwatun Aqliyatun itu, cenderung kepada sebuah usaha yang dengan usaha itu di harapkan mampu terpenuhi cita-cita demi meraih sukses dunia akhirat, dan mendapat ridho dari Allah swt. sesuai dengan harapan Allah swt. yaitu manusia sebagai Kholifah Fi-Al Ardli. Dan juga kekuatan aqli ini lebih mendorong manusia untuk selalu berusaha dalam mewujudkan insan yang dicintai Allah swt; insan yang sudah dianggap melaksanakan tugas-tugasnya sebagai hamba. Seperti sholat, membaca Al Qur’an, zakat, haji dan lain sebagainya. Untuk lebih mengarahkan pada akal manusia, Allah swt. membuat aturan-aturan tentang ibadah yang meliputi tentang berbagai bab. Seperti bab sholat, puasa, zakat dan haji.